Malam ini terasa sunyi dan sepi. Belakangan ini hujan terus menerus membasahi atap rumahku. Aku merasa bosan, tak ada yang dapat kulakukan selain berbaring terlentang diatas kasur empukku. Hanya terdiam, terpaku aku melihat cahaya bulan dari lubang atap berkaca yang sengaja kubuat untuk menerangi kamarku saat siang dan juga agar aku dapat melihat dengan puas cahaya rembulan malam. Terasa hampa, sunyi, sepi malam ini, hanya ada suara percikan air yang menyapaku malam ini.
“zim………..” Papaku tiba-tiba memenggilku.
“ya………ada apa Pa?” jawabku.
“Temenmu nunggu diluar!”
“Temen?”
“Iya……..si Andi nungguin kamu diluar!”
“Bilangin tunngu bentar ya,Pa!”
Seperti biasanya, Andi hanya pura-pura meminjam bukuku. Maksud dia sebenarnya cuman mau ngajak aku ngobrol saja.
“Zim!” Andi tiba-tiba muncul didepanku.
“ Tumben malam-malam mampir? Ada hal penting paan?” tanyaku heran
“Ah….. gak papa koq. Ku cuman mau pinjem buku tugasmu aja koq. Sekalian……..”
“Sekalian paan?”
“Yah…… kita ngobrol diluar!”
Dari pada bosan di kamar hanya nonton “naruto” film faforitku, lebih baik aku ngobrol diluar saja sama Andi. Toh…. Gak ada ruginya koq, pikirku dalam hati. Kami berdua pun keluar dan ngobrol di teras rumahku, karena bosan, kami pergi membeli cemilan dikios seberang jalan. Tiba-tiba HPku berdering. Ku lirik sejenak, ternyata yang meneleponku adalah papaku.
“Ya,Pa? ada apa?” tanyaku
“Kamu dimana? cepat pulang ya, ada yang mau papa bicarakan. Kita bertemu di rumah sakit.”
“Ya…..”
“Bawain makan malam ntar kesini!”
“Beres dah…”
Telepon singkat dari Ayah tadi mengakhiri pertemuan kami malam itu. Tak terasa jam sudah mennjukkan pukul 7 malam. Seperti yang dukatakn Ayah tadi, pergi kerumah adalah tujuan petamaku dan selanjutnya kerumah sakit.
Sesampainya di rumah, aku segera mengemas makan malam untuk keluargaku dirumah sakit. Namun, aku tak melihat ada orang dirumah, mungkin mereka keluar, sebentar. pikirku dalam hati.
Sesampainya dirumah sakt, aku segera menuju kamar dimana tempat mamaku dirawat. Ya, sebulan lalu mamaku ditabrak oplet, kepalanya terbentur keras hingga harus dirawat dirumah sakit. Namun hari ini terasa aneh, kulihat papa, abangku, kakakku, nenekku, dan bibiku sedang duduk dikoridor dekat kamar mama dirawat. Aku heran, namun jantungku berdetak keras. Aku merasa ada yang aneh hari ini. Kulihat wajah mereka begitu pucat, lesu, dan bimbang.
“Ada apa rame-rame disini? Koq tumben?” tanyaku dengan suara lembut dan ketakutan.
“Mama………” kata kakakku.
‘Mama kenapa kak?” aku memang sudah dapat menerka jawabannya dari ekspresi wajah mereka.
“Mamau sekarat, kita hanya dapat pasrah dan berdoa saja.” Kata Papa ku dengan nada lembut.
Waktu demi waktu terus berjalan. Sudah 5 jam kami menunggu di koridor ini. Tubuhku rasanya sudah mati rasa menunggu kepastian dari dokter. Sesekali kulirik wajah keluargaku, terpancar mimik gelisah, takut, dan bimbang. Hanya doa yang dapat kami panjat saat ini.
“Krek…………………” dokterpun keluar dari pintu kamar mamaku.
Terdengar suara pintu kamar mamaku terbuka. Kami serentak berdiri dan menemui dokter. Terlihat ekspresi wajah dokter yang kelelahan, bimbang, dan kepala yang menunduk, yang seakan-akan aku dapat menerka apa yang akn dikatakannya pada kami. Ya, mungkin yang ingin dikatakannya adalah…………… Ah, saat ini aku tidak boleh berpikir pesimis, kataku dalam hati.
Dengan langkah kecil aku menghampiri dokter.
“Gimana dengan keadaan mamaku, Dok?” tanyaku dengan nada terputus-putus.
“Mamamu……………” kata dokter sambil menghusap keringat di keningnya
“ Ya, bagaimana keadaannya?” tanya bibiku yang sejak dari tadi terus berdoa demi keselamatan mamaku.
“Kami sudah berusaha sebaik mungkin, ibu anda sudah dipanggil yang kuasa” kata dokter
“ Mama……………..” kata kakaku sambil berlari menuju kamar mamaku.
Aku mulai merasakan jantungku seperti dijepit, kakiku seperti ditimpa beban berat, badanku gemetar. Serasa aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.Aku ingin melihat wajah mama yang dulu. Aku ingin mencicipi masakan mama yang aromanya belum hilang dari penciumanku. Aku ingin mendengar ocehan mama. Aku ingin semuanya itu kembali.
Tak terbendung lagi air mataku, sambil memasuki kamar mamaku dengan langkah kecilku. Ku tak tahu harus berbuat apa. Papaku, Kakakku ,Abangku, Nenekku, Bibiku semuanya menangis di samping mamaku.
“Ma, bangun ma!” kata abangku.
“Sudahlah. Relakanlah, mamamu pasti senang disana!” kata bibiku.
“Senang?” tanya kakaku
“Ya, karena terwujudlah impiannya selama ini.” Jawab bibiku
“Impian apa, Bi?” tanyaku penasaran.
“ Terwujudlah impiannya untuk bertemu Tuhan Yesus diatas sana.” Jawab nenekku sambil menghelus dadaku.
Mataku serasa kering, air mataku serasa habis. Mamakupun dibawa pulang kerumah. Dua hari pesta peringatan meninggalnya mamaku diadakan. Banyak resepsi acara yang diadakan, namun satupun aku tak mengerti untuk apa.
Hari ini adalah hari pemakaman mamaku. Hari ini cuaca mendung seperti biasanya. Aku tak tahan melihat mamaku dibaringkan dipeti mati yang sempit, diletakkan diliang kubur yang pengap. Inginku menemaninya, berdua bersamanya, namun apa yang yang dapat kuperbuat. Hanya memandangi mamaku untuk terakhir kalinya.
“Sudahlah, Zim. Ini semua sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa. Kita hanya dapat berdoa agar roh ibumu damai di alam sana.” Kata papaku.
“Ia, Pa. aku tahu.” Jawabku.
Hari itu begitu menyedihkan bagiku. Hari itu merupakan hari yang tak dapat kulupakan seumur hidupku. Semua impianku, semua angan-anganku, berakhir sia-sia. Impianku untuk membahagiakan mamaku, mengembalikan senyuman manisnya, membawanya pulang kerumah dengan kondisi yang sehat, semuanya berakhir sia-sia.
Malam-malamku terasa hampa lagi. Ku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sambil menetaskan air mata, semua impianku, angan-anganku, kutuliskan diatas kertas putih.
Lalu kusimpan di kotak kesayanganku. Tiap malam aku hanya dapat berdoa “semoga mamaku senang disana. Ma, I LOVE YOU.” Hanya kata singkat itu yang dapat kusampaikan, impianku hanya sebatas diatas kertas.
“zim………..” Papaku tiba-tiba memenggilku.
“ya………ada apa Pa?” jawabku.
“Temenmu nunggu diluar!”
“Temen?”
“Iya……..si Andi nungguin kamu diluar!”
“Bilangin tunngu bentar ya,Pa!”
Seperti biasanya, Andi hanya pura-pura meminjam bukuku. Maksud dia sebenarnya cuman mau ngajak aku ngobrol saja.
“Zim!” Andi tiba-tiba muncul didepanku.
“ Tumben malam-malam mampir? Ada hal penting paan?” tanyaku heran
“Ah….. gak papa koq. Ku cuman mau pinjem buku tugasmu aja koq. Sekalian……..”
“Sekalian paan?”
“Yah…… kita ngobrol diluar!”
Dari pada bosan di kamar hanya nonton “naruto” film faforitku, lebih baik aku ngobrol diluar saja sama Andi. Toh…. Gak ada ruginya koq, pikirku dalam hati. Kami berdua pun keluar dan ngobrol di teras rumahku, karena bosan, kami pergi membeli cemilan dikios seberang jalan. Tiba-tiba HPku berdering. Ku lirik sejenak, ternyata yang meneleponku adalah papaku.
“Ya,Pa? ada apa?” tanyaku
“Kamu dimana? cepat pulang ya, ada yang mau papa bicarakan. Kita bertemu di rumah sakit.”
“Ya…..”
“Bawain makan malam ntar kesini!”
“Beres dah…”
Telepon singkat dari Ayah tadi mengakhiri pertemuan kami malam itu. Tak terasa jam sudah mennjukkan pukul 7 malam. Seperti yang dukatakn Ayah tadi, pergi kerumah adalah tujuan petamaku dan selanjutnya kerumah sakit.
Sesampainya di rumah, aku segera mengemas makan malam untuk keluargaku dirumah sakit. Namun, aku tak melihat ada orang dirumah, mungkin mereka keluar, sebentar. pikirku dalam hati.
Sesampainya dirumah sakt, aku segera menuju kamar dimana tempat mamaku dirawat. Ya, sebulan lalu mamaku ditabrak oplet, kepalanya terbentur keras hingga harus dirawat dirumah sakit. Namun hari ini terasa aneh, kulihat papa, abangku, kakakku, nenekku, dan bibiku sedang duduk dikoridor dekat kamar mama dirawat. Aku heran, namun jantungku berdetak keras. Aku merasa ada yang aneh hari ini. Kulihat wajah mereka begitu pucat, lesu, dan bimbang.
“Ada apa rame-rame disini? Koq tumben?” tanyaku dengan suara lembut dan ketakutan.
“Mama………” kata kakakku.
‘Mama kenapa kak?” aku memang sudah dapat menerka jawabannya dari ekspresi wajah mereka.
“Mamau sekarat, kita hanya dapat pasrah dan berdoa saja.” Kata Papa ku dengan nada lembut.
Waktu demi waktu terus berjalan. Sudah 5 jam kami menunggu di koridor ini. Tubuhku rasanya sudah mati rasa menunggu kepastian dari dokter. Sesekali kulirik wajah keluargaku, terpancar mimik gelisah, takut, dan bimbang. Hanya doa yang dapat kami panjat saat ini.
“Krek…………………” dokterpun keluar dari pintu kamar mamaku.
Terdengar suara pintu kamar mamaku terbuka. Kami serentak berdiri dan menemui dokter. Terlihat ekspresi wajah dokter yang kelelahan, bimbang, dan kepala yang menunduk, yang seakan-akan aku dapat menerka apa yang akn dikatakannya pada kami. Ya, mungkin yang ingin dikatakannya adalah…………… Ah, saat ini aku tidak boleh berpikir pesimis, kataku dalam hati.
Dengan langkah kecil aku menghampiri dokter.
“Gimana dengan keadaan mamaku, Dok?” tanyaku dengan nada terputus-putus.
“Mamamu……………” kata dokter sambil menghusap keringat di keningnya
“ Ya, bagaimana keadaannya?” tanya bibiku yang sejak dari tadi terus berdoa demi keselamatan mamaku.
“Kami sudah berusaha sebaik mungkin, ibu anda sudah dipanggil yang kuasa” kata dokter
“ Mama……………..” kata kakaku sambil berlari menuju kamar mamaku.
Aku mulai merasakan jantungku seperti dijepit, kakiku seperti ditimpa beban berat, badanku gemetar. Serasa aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.Aku ingin melihat wajah mama yang dulu. Aku ingin mencicipi masakan mama yang aromanya belum hilang dari penciumanku. Aku ingin mendengar ocehan mama. Aku ingin semuanya itu kembali.
Tak terbendung lagi air mataku, sambil memasuki kamar mamaku dengan langkah kecilku. Ku tak tahu harus berbuat apa. Papaku, Kakakku ,Abangku, Nenekku, Bibiku semuanya menangis di samping mamaku.
“Ma, bangun ma!” kata abangku.
“Sudahlah. Relakanlah, mamamu pasti senang disana!” kata bibiku.
“Senang?” tanya kakaku
“Ya, karena terwujudlah impiannya selama ini.” Jawab bibiku
“Impian apa, Bi?” tanyaku penasaran.
“ Terwujudlah impiannya untuk bertemu Tuhan Yesus diatas sana.” Jawab nenekku sambil menghelus dadaku.
Mataku serasa kering, air mataku serasa habis. Mamakupun dibawa pulang kerumah. Dua hari pesta peringatan meninggalnya mamaku diadakan. Banyak resepsi acara yang diadakan, namun satupun aku tak mengerti untuk apa.
Hari ini adalah hari pemakaman mamaku. Hari ini cuaca mendung seperti biasanya. Aku tak tahan melihat mamaku dibaringkan dipeti mati yang sempit, diletakkan diliang kubur yang pengap. Inginku menemaninya, berdua bersamanya, namun apa yang yang dapat kuperbuat. Hanya memandangi mamaku untuk terakhir kalinya.
“Sudahlah, Zim. Ini semua sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa. Kita hanya dapat berdoa agar roh ibumu damai di alam sana.” Kata papaku.
“Ia, Pa. aku tahu.” Jawabku.
Hari itu begitu menyedihkan bagiku. Hari itu merupakan hari yang tak dapat kulupakan seumur hidupku. Semua impianku, semua angan-anganku, berakhir sia-sia. Impianku untuk membahagiakan mamaku, mengembalikan senyuman manisnya, membawanya pulang kerumah dengan kondisi yang sehat, semuanya berakhir sia-sia.
Malam-malamku terasa hampa lagi. Ku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sambil menetaskan air mata, semua impianku, angan-anganku, kutuliskan diatas kertas putih.
Lalu kusimpan di kotak kesayanganku. Tiap malam aku hanya dapat berdoa “semoga mamaku senang disana. Ma, I LOVE YOU.” Hanya kata singkat itu yang dapat kusampaikan, impianku hanya sebatas diatas kertas.




0 komentar:
Posting Komentar